Welcome to Official Blog of HMJA FEB UB

Selamat datang di Blog HMJA FEB UB dengan tampilan baru. Akuntansi SATU!

We Are Unite!

Show us. Akuntansi Satu!!!

Produk Kewirausahaan

Info mengenai produk-produk merchandise HMJA FEB UB.

INTERAKSI 2014

COMING SOON!

ACCOUNTING GATHERING

COMING SOON!

Rabu, Desember 10, 2014

The Moments: BRAWIJAYA ACCOUNTING FAIR 2014

Brawijaya Accounting Fair (BAF) 2014 yang diselenggarakan selama tiga hari, yakni mulai tanggal 10 hingga 12 November 2014 merupakan program kerja dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA) FEB UB. Kegiatan ini adalah bukti eksistensi Jurusan Akuntansi dan HMJA FEB UB pada dunia luar . Tahun ini, Brawijaya Accounting Fair mengusung tema “The New Wave of Accounting in Globalization”. BAF 2014 sendiri memiliki 4 rangkaian acara yaitu Seminar Nasional, Accounting Case Analysis Competition, Running on BAF dan Gala Dinner.

DAY 1
Seminar Nasional
Seminar Nasional BAF 2014 yang diselenggarakan pada tanggal 10 November 2014 terdiri dari dua sesi seminar. Sesi pertama adalah sesi Plenary Session dan sesi kedua adalah Accounting Knowledge Bazaar. Plenary Session menyuguhkan dua subtema yaitu perkembangan terkini standar dan regulasi profesi akuntansi serta rancang bangun profesi akuntan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan Institut Akuntan Publik Indonesia(IAPI). Keynote Speaker pada gelaran BAF 2014 adalah M. Jusuf Wibisana, M.Ec., Ak., CPA., CA. yang merupakan Financial Partner at PWC sekaligus dosen FEB UB. Subtema pertama dibawakan oleh Agus Suparto, MBA., Ak. yang merupakan Kepala Bidang Pembinaan Usaha dan Akuntan Publik Kementerian Keuangan. Sedangkan subtema kedua dibawakan oleh Ketua Dewan Sertifikasi IAPI, Dr. M. Achsin, Ak., CPA., CA. dan anggota DPN IAI, Heliantono, CPA., CA., CIFR., M.Ak.
Accounting Knowledge Bazaar, diisi dengan update PSAK mengenai Aset Tetap dan Instrumen Keuangan. Terdapat dua kelas dalam sesi ini, yaitu kelas Aset Tetap dengan pemateri M. Jusuf Wibisana, M.Ec., Ak., CPA., CA dan kelas Instrumen Keuangan dengan pemateri  Dr. Dwi Martani, Ak., MM. Yang merupakan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI).




DAY 2
Accounting Case Analysis Competition
Accounting Case Analysis Competition merupakan kompetisi analisis kasus antar mahasiswa jurusan akuntansi se-Indonesia. Para peserta diharapkan dapat menganalisis suatu kasus secara menyeluruh dan komprehensif. Peserta dapat menganalisis kasusnya dari berbagai sudut pandang misalnya akuntansi keuangan, akuntansi keuangan lanjutan,  auditing, etika bisnis, dan disiplin ilmu lain yang berkaitan. Kompetisi analisis kasus ini terdiri dari tahap yaitu tahap We Challenge You, Keep or Move, dan Speak it Out. Tahap We Challenge You merupakan tahap dimana para peserta diberi kasus awal, sebelum melanjutkan tahap selanjutnya di FEB UB pada 11 November 2014. Tahap Keep or Move merupakan tahap dimana peserta diberi kasus tambahan terkait kasus awal dan tahap ini diikuti oleh seluruh peserta tahap We Challenge You. Selanjutnya, tahap Speak It Out diikuti oleh tujuh tim dengan akumulasi nilai tertinggi dari tahap-tahap sebelumnya. Para peserta berasal dari berbagai universitas di Indonesia seperti Universitas Trisakti, Universitas Bunda Mulia, Universitas Negeri Surakarta, Universitas Jember, Universitas Brawijaya, Universitas Kristen Petra, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan Universitas Surabaya.





DAY 3
Running On BAF
Sebuah konsep baru dari field trip BAF 2014 dimana peserta dikenalkan pada Kota Malang dan sekitarnya. Para peserta Running onBAF diajak berjalan-jalan ke Kota Batu Malang disembari dengan permainan seru. Peserta Running on BAF merupakan pesertaAccounting Case Analysis Competition. Destinasi Running on BAF pada tahun ini adalah alun-alun Kota Batu dan Wisata Museum Angkut.





Gala Dinner
Gala Dinner merupakan malam puncak BAF 2014 yang diselenggarakan pada tanggal 12 November 2014, setelah pada pagi harinya terdapat kegiatan Running on BAF. Gala Dinner dilaksanakan di Best Western OJ Hotel. Dalam rangkaian acara terakhir ini terdapat pengumuman juara Accounting Case Anlysis Competition dan Running on BAF. Gelar Juara Accounting Case Anlysis Competitionberhasil disabet oleh tim delegasi dari Universitas Surabaya, sementara peringkat dua diraih oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan peringkat tiga diraih oleh Universitas Kristen Petra. (siti/azm)




Minggu, Oktober 19, 2014

Mengenal Sosok Ketua Pelaksana Interaksi 2014

Bertanggung jawab dan Disiplin tepat waktu. Itulah sepertinya sifat yang selalu melekat pada diri Prasetya Putra Dewanta . Pria kelahiran Malang ini dipercaya untuk menjalankan  dan memimpin INTERAKSI 2014, yaitu salah satu program kerja kaderisasi di HMJA FEBUB.  Menurutnya, INTERAKSI 2014 ini adalah Prosesi acara penyambutan Mahasiswa Baru Jurusan Akuntansi 2014 yang dimana dalam penyambutannya akan berlangsung secara menyenangkan dan kekeluargaan. Adapun kendala dalam kepanitian INTERAKSI 2014 ini bisa ditangani bersama dengan nahkoda kepemimpinan dari ketua pelaksana. Adapun harapan pada INTERAKSI 2014 ini semoga acara dapat berlangsung dengan sukses dari awal kepengurusan terbentuk hingga berakhirnya acara, berjalan dengan lancar, dan dapat melebihi ekspektasi yang diharapkan.

PRA INTERAKSI 2014

Sabtu 20 september 2014. Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi mengadakan acara PRA INTERAKSI yang dimana acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan Mahasiswa Baru Jurusan Akuntansi  terhadap Jurusan Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB). Acara PRA INTERAKSI ini merupakan rangkaian acara INTERAKSI yang akan dilaksanakan di bulan berikutnya yaitu pada tanggal 18-19 oktober 2014






Berlokasikan di Basement FEB UB, acara dimulai pukul 08.00. Antusiasme Mahasiswa Baru Akuntansi 2014 ini pun sangat tinggi, terlihat dari banyaknya Mahasiswa Baru yang hadir, bahkan ketika panitia INTERAKSI masih persiapan pun, Mahasiswa Baru Akuntansi pun sudah ada yang berdatangan.

Ketika acara baru dimulai, Mahasiswa Baru pun mulai menempati tempat yang disediakan sesuai dengan no. undian kelompok yang dibagi ketika mereka melakukan registrasi di meja sekretariat. Acarapun diawali dengan sambutan dari Sekretaris Jurusan Bapak Abdul Ghofar, sekaligus beliau memberikan motivasi kepada Mahasiswa Baru Akuntansi 2014 agar terbiasa dengan lingkungan perkuliahan di kampus Universitas Brawijaya (UB) terutama di FEB. Selanjutnya sambutan oleh Saudara Rangga Agata selaku Ketua Umum HMJA, dan Saudara Prasetya Putra  Dewanta selaku Ketua Pelaksana INTERAKSI 2014.






Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan pembekalan materi oleh Sekretaris jurusan  akuntansi FEB UB untuk Mahasiswa Baru Akuntansi 2014 di Aula Gedung F yang telah ditunjuk.  Usai pembekalan materi, Mahasiswa baru Akuntansi 2014 diarahkan oleh SPV untuk ice breaking setelah pembekalan materi agar mereka tidak merasa jenuh dalam mengikuti PRA INTERAKSI ini. Terlihat canda tawa mewarnai ice breaking yang diberikan oleh panitia INTERAKSI 2014 kepada Mahasiswa Baru Akuntansi 2014.






Usai Ice Breaking, kembali Mahasiswa Baru Akuntansi  diarahkan untuk mengikuti rangkaian acara selanjutnya. Pada sesi selanjutnya ini adalah sesi perkenalan panitia INTERAKSI 2014. Disini Mahasiswa Baru Akuntansi akan mengenal siapa saja panitia INTERAKSI 2014 baik yang bekerja didepan layar maupun dibelakang layar. Supaya Mahasiswa Baru Akuntansi ini terfokus ketika panitia INTERAKSI memperkenalkan diri, maka perkenalan panitia INTERAKSI dikemas dengan sebuah video perkenalan. Setiap panitia INTERAKSI 2014 yang maju kedepan untuk berkenalan diwajibkan membuat jargon maupun yel yel. Tak khayal apabila ada jargon maupun yel yel yang di buat panitia INTERAKSI membuat Mahasiswa Baru Akuntansi ini tertawa riang.




Usai panitia INTERAKSI memperkenalkan diri kepada Mahasiswa Baru Akuntansi 2014, acara selanjutnya adalah membagi Mahasiswa Baru Akuntansi 2014 ke dalam 12 kelompok permanen hingga rangkaian acara INTERAKSI selesai.  Ketika 12 kelompok telah terbentuk maka tugas dari masing – masing kelompok tersebut adalah mencari Supervisor (SPV) kelompok mereka yang telah ditentukan oleh panitia. Setelah mereka menemukan SPV kelompok mereka masing – masing, maka selanjutnya SPV melakukan pendekatan kepada masing – masing kelompok yang mereka tangani.

Selesai perkenalan dengan SPV, divisi acara memberikan tugas kelompok maupun individu kepada mahasiswa baru untuk INTERAKSI I dan II dimana tugas tersebut memberikan esensi terutama esensi tentang kekeluargaan yang ada di lingkungan Akuntansi FEB UB.

Waktu menunjukan pukul 02.00 dan selesai sudah semua rangkaian PRA INTERAKSI 2014, semoga acara ini dapat memberikan kesan yang baik bagi semua yang terlibat dalam PRA INTERAKSI 2014 dan acara ditutup oleh jargon akuntansi dan INTERAKSI oleh panitia dan Mahasiswa Baru 2014.
.


Selasa, September 30, 2014

Kilas Balik September: OPEN HOUSE KM-FEB 2014

Pada tanggal 15-16 September 2014 yang lalu, keluarga besar mahasiswa FEB Universitas Brawijaya berkumpul dalam acara akbar Open House KM-FEB yang digelar di Basement Gedung E FEB UB. Dalam acara ini, seluruh LO dan LSO membuka stand dalam rangka pengenalan lebih dalam dari masing-masing lembaga kepada seluruh mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Tak terkecuali HMJA sebagai salah satu lembaga otonom atau LO yang menaungi seluruh mahasiswa Jurusan Akuntansi di lingkungan FEB UB.

Menempati stand nomor 15, HMJA memberikan kesempatan bagi seluruh mahasiswa baru, khususnya mahasiswa jurusan akuntansi untuk mengenal lebih baik mengenai keberadaan himpunan mahasiswa di universitas. Melalui obrolan-obrolan ringan bersama pengurus HMJA yang berada di stand, para mahasiswa baru dapat menyampaikan berbagai pesan, kesan, serta keluh kesah yang dirasakan selama kurang lebih 2 minggu berada di dunia perkuliahan. Selain itu, para mahasiswa baru juga dapat mengenal lebih jauh mengenai HMJA sendiri, dimana HMJA merupakan lembaga yang dapat dikatakan menjadi ‘rumah’ bagi seluruh mahasiswa Jurusan Akuntansi FEB UB. Mulai dari pengurus-pengurus HMJA, departemen-departemen yang ada, serta memromosikan berbagai program kerja yang ada di HMJA, seperti Interaksi dan Charity Event yang memang ditujukan untuk para mahasiswa baru.

Selain membuka stand, lembaga-lembaga yang ada juga diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi atau pun promosi mengenai lembaga masing-masing kepada seluruh mahasiswa yang menghadiri acara Open House. Dengan berakhirnya acara ini, diharapkan para mahasiswa baru dapat lebih memahami dan mengetahui lingkungan barunya di Universitas, serta ikut aktif dalam dunia keorganisasian di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

Kilas Balik September: STUDY EXCURSIE 2014

Pengetahuan dan pengalaman baru tidak hanya dapat diperoleh dari kegiatan perkuliahan di dalam ruangan. Melalui kegiatan Study Excursie atau yang disingkat SE, HMJA FEB UB memberikan kesempatan pada seluruh mahasiswa Jurusan Akuntansi untuk terjun secara langsung dalam dunia akuntansi yang sebenarnya. Pada tahun 2014 ini, acara yang menjadi program kerja tahunan dari departemen Infokom HMJA memilih Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sebagai kota tujuannya.

Sebelum memulai perjalanan.

Acara yang dilaksanakan pada tanggal 9 hingga 13 September 2014 ini diikuti oleh 47 peserta dari berbagai angkatan yang masih aktif sebagai mahasiswa di lingkungan JAFEB-UB. Dibuka oleh briefing dari panitia serta persiapan seluruh peserta, perjalanan dimulai tepat pada pukul 08.00 pagi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya menuju Jakarta sebagai tujuan pertama. Perjalanan panjang selama hampir satu hari dilewati dengan penuh keceriaan dan canda tawa.

Tujuan pertama setelah sampai di Jakarta pada pagi hari tanggal 10 September 2014 adalah Coca-cola Amatil Indonesia, salah satu perusahaan produsen dan distributor minuman ringan yang memiliki lisensi dagang produk Coca-Cola Company di Indonesia yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. Di sini, peserta SE 2014 dapat mengetahui lebih banyak mengenai sejarah perusahaan, manajemen perusahaan, mendengar penjelasan dan melihat secara langsung proses produksi dan distribusi dari berbagai produk Coca-cola Amatil Indonesia, serta melakukan sesi tanya jawab dengan pihak perusahaan.

Foto bersama pihak Coca-cola Amatil Indonesia.

Seusai kunjungan di Coca-cola Amatil Indonesia, perjalanan berlanjut menuju tempat penginapan dan waktu bebas. Selain sebagai kegiatan pembelajaran dan rekreasi, SE 2014 juga menjadi ajang bagi peserta untuk bertemu dengan para alumni Jurusan Akuntansi FEB-UB terutama yang berada di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Hari ketiga SE 2014 dimulai dengan perjalanan menuju salah satu KAP Big Four yaitu PwC Indonesia. Kunjungan kali ini dimulai dengan sesi presentasi dari PwC mengenai sejarah, bidang pekerjaan, serta berbagi hal yang berhubungan dengan dunia akuntansi, terutama dalam bidang auditing. Mengenal pengaplikasian dan penggunaan ilmu akuntansi secara nyata dalam dunia kerja dan lebih memahami prospek kerja dari lulusan jurusan akuntansi. Selain itu, dalam kunjungan di kantor PwC ini, peserta SE juga berkesempatan untuk sharing hearing bersama salah satu alumni JAFEB-UB yang bekerja di PwC Indonesia dan juga bertemu dengan Ketua HMJA Periode 2014 yang sedang menjalani program magang di sana.



Seusai makan siang bersama di Kantor PwC Indonesia, perjalanan berlanjut menuju kota tujuan kedua, Bandung. Kegiatan bebas selama kurang lebih 4 jam menjadi ajang jalan-jalan dan belanja oleh-oleh bagi para peserta. Sekitar pukul 8 malam, perjalanan berlanjut menuju tujuan terakhir, Yogyakarta, sekaligus menjadi perjalanan pulang dari SE 2014. Agenda yang dilaksanakan para peserta di Yogyakarta sendiri adalah berwisata ke salah satu objek wisata terkenal di Yogyakarta yaitu Gua Pindul. Peserta berkesempatan untuk melepas penat dan bersenang-senang melalui kegiatan susur gua baik basah atau pun kering dan juga rafting.

Tepat pukul 6 sore, peserta meninggalkan objek wisata Gua Pindul untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Malang. Perjalanan berakhir dengan selamat setibanya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya pada 13 September 2014. Melalui perjalanan SE 2014 ini, banyak hal-hal dan pengalaman-pengalaman baru yang didapatkan oleh peserta yang diharapkan dapat menjadi pengaruh positif dalam menuntut ilmu di Jurusan Akuntansi FEB UB dan berguna dalam kehidupan di masa depan.

Senin, September 29, 2014

Seminar Kewirausahaan Nasional with BONG CHANDRA : GRTW 2014 "Let's Make Your Billionare Dreams Come True"

BEM FEB Universitas Brawijaya proudly presents: Seminar Kewirausahaan Nasional GRTW 2014.
Dengan tema "Let's Make Your Billionare Dreams Come True", dan dengan pemateri :
- Bong Chandra ( Enterpreneur, Author dan Motivator Termuda se-Asia )
- Wahyu Lis Adaideaja ( Enterpreneur dan Penulis buku Emperpreneur )
- Dzawin ( Juara 3 Stand up Comedy Suci 4 )

Seorang motivator hebat dan masih muda, memiliki gelar sebagai motivator muda terbaik se- Asia. Dipadukan dengan seorang kreator bisnis yang selalu ada ide dan bersama dengan stand up comedy yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Disatukan bersama di dalam satu acara besar GRTW 2014!

Seminar Kewirausahaan Nasional GRTW 2014 akan diadakan :
Tanggal/Hari : 26 Oktober 2014
Jam : 08.00 s/d 16.00
Tempat : Hotel Graha Kartika ( Jl. Jaksa Agung Soeprapto 17, Malang)

HTM:
-VVIP : 400k
-VIP : 275k
-REG : 150k
Beli 10 tiket gratis 1 tiket, Promo tiket until 30 september 214.

Ayo segera daftarkan diri anda, Grab it fast, limites seats! Don't miss it guys!
CP: anjas: 082332530307
       wulan: 082131042561
       anas: 085731506045
More info: @GRTW2014
START YOUR OWN BUSINESS! :)

Rabu, September 24, 2014

OBLIGASI DAERAH SEBAGAI ALTERNATIF PEMBIAYAAN DALAM DESENTRALISASI FISKAL

Salah satu tuntutan pada awal reformasi adalah persoalan yang berkaitan dengan kebijakan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah
            Seperti yang diketahui, Indonesia berbentuk negara kesatuan dan hal ini telah dituangkan dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 1 yang berbunyi “Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik”. Sebagai negara kesatuan, hanya ada satu pemerintah yaitu pemerintah pusat yang memiliki wewenang tertinggi akan kekuasaan negara, menetapkan kebijakan-kebijakan pemerintahan dan melaksanakan pemerintahan baik di lingkup pusat maupun daerah. Meskipun pemerintah pusat memiliki kewenangan tertinggi, bukan berarti segala urusan langsung ditangani oleh pemerintah pusat. Pemerintah pusat dapat melimpahkan wewenang tersebut kepada pemerintah daerah yang kemudian disebut dengan desentralisasi. Menurut UU nomor 22 tahun 1999 pasal 1, desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintah oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan menurut Rondinelli dan Cheema, desentralisasi memiliki pengertian sebagai transfer perencanaan, pengambilan keputusan, atau otoritas administratif dari pemerintah pusat kepada organisasinya di lapangan, unit-unit administrasi lokal, organisasi semi-otonom dan organisasi parastatal (organisasi multinasional), pemerintahan lokal, atau organisasi non pemerintah.
Secara umum, desentralisasi bukan hanya mencakup satu aspek tetapi juga dari berbagai aspek. Salah satu aspek atau komponen utama dalam desentralisasi adalah desentralisasi fiskal. Desentralisasi fiskal memungkinkan pemerintah daerah melaksanakan fungsinya secara efektif dan bebas dalam mengambil suatu keputusan pengeluaran di sektor publik. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus mendapat dukungan sumber-sumber keuangan yang cukup baik yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Pinjaman, maupun Subsidi atau bantuan dari pemerintah pusat. Desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik apabila  didukung dengan pengawasan dari pemerintah pusat dan sumber daya manusia yang mumpuni di lingkungan pemerintah daerah serta kejelasan dalam pembagian tanggung jawab dan kewenangan dalam memungut pajak dan retribusi daerah.
Desentralisasi merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari otonomi daerah. Otonomi daerah membuat pemerintah daerah dapat mengatur dengan bebas daerahnya sesuai dengan arahan dan kebijakan dari pemerintah pusat. Kebijakan ini, menurut undang-undang nomor 32 tahun 2004, bertujuan untuk memacu perataan pembangunan dan hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran aktif masyarakat secara nyata, dinamis dan bertanggung jawab sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Selain mengurangi beban pemerintah pusat, campur tangan daerah yang dilakukan akan memberi peluang untuk koordinasi tingkat lokal. Kebijakan ini sangat bersinergi dengan undang-undang nomor 25 tahun 1999 dan undang-undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang akhirnya menimbulkan pemerataan hasil-hasil pembangunan secara adil dan menyeluruh dengan menggunakan sumber daya potensial di daerahnya masing-masing.  
Otonomi daerah yang secara tersirat menggambarkan kemandirian pemerintah daerah tetap bergantung pada kemampuan pemerintah daerah tersebut dalam bekerjasama dan bernegosiasi dengan pihak-pihak lain baik dari pihak swasta dalam negeri dan luar negeri serta pemerintah daerah lain maupun pemerintah pusat. Dalam realitanya, pemerintah daerah masih sangat bergantung kepada pemerintah pusat terutama dana perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Hal ini dibuktikan dengan cukup tingginya prosentase penerimaan daerah pada APBD dari dana perimbangan yaitu mencapai 60%.  Sementara belanja pegawai, barang dan jasa mencapai 75% serta kurang dari 20% digunakan untuk belanja modal. Dengan dana yang kurang dari 20% pada APBD tidak memungkinkan bagi pemerintah daerah untuk menjadikan belanja daerah sebagai pemicu pembangunan daerah melalui infrastruktur. Dengan kata lain, Pemerintah daerah mengalami dilemma karena di satu sisi mengalami keterbatasan dana dan di sisi yang lain aset tetap merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam kondisi Indonesia saat ini. Untuk menghadapi dilemma tersebut, terdapat salah satu alternatif yaitu melalui penerbitan obligasi daerah.
Penerbitan obligasi daerah ini didasarkan pada undang-undang  nomor 22 tahun 1999 pasal 79 yang memberi kuasa daerah untuk melakukan pinjaman daerah. Selain itu, undang-undang nomor 25 tahun 1999 pasal 11 dan 12 mengijinkan pemerintah untuk menggunakan beberapa instrumen keuangan dalam mencari pinjaman. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.07/2006, obligasi daerah merupakan pinjaman daerah yang ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. Obligasi Daerah hanya dapat diterbitkan di pasar modal domestik dan dalam satuan mata uang rupiah. Peraturan menteri keuangan yang diambil dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang pinjaman daerah tersebut menetapkan tatacara penerbitan, pertanggungjawaban, dan publikasi informasi obligasi daerah.  Tujuan penerbitan obligasi daerah adalah membiayai kegiatan investasi aset tetap sektor publik, bukan untuk menutup kekurangan kas daerah. Dana dari penerbitan obligasi daerah harus digunakan untuk proyek yang menghasilkan manfaat disertai dengan perencanaan yang matang. Meskipun demikian, obligasi ini tidak mendapatkan jaminan dari pemerintah pusat dan segala resiko dari obligasi daerah ini akan ditanggung oleh pemerintah daerah yang menerbitkan obligasi daerah tersebut.
Terdapat dua kemungkinan dalam pembiayaan ini yaitu dengan mengeluarkan Municipal Bond yang dikeluarkan langsung oleh pemerintah daerah yang berupa obligasi umum (General Bond) dan dijamin langsung oleh pemerintah daerah. Kedua adalah obligasi penghasilan (Revenue Bond) yang dikeluarkan untuk membiayai proyek-proyek secara langsung dan dijamin oleh proyek yang didanai seperti perhotelan, pariwisata, dan pusat-pusat bisnis yang lainnya. Setidaknya, ada dua unsur utama yang perlu diperhatikan dalam penerbitan obligasi daerah. Unsur pertama berkaitan dengan kapasitas fiskal yang membuat pemerintah daerah harus mendapat persetujuan dahulu dari menteri keuangan. Kapasitas fiskal yang dimaksud harus memenuhi syarat berikut ini :
1.    Jumlah sisa pinjaman daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75 persen dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya;
2.    Rasio proyeksi kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman (Debt Service Coverage Ratio/DSCR) paling sedikit 2,5;
3.    Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah; dan
4.    Mendapatkan persetujuan DPRD.

Sedangkan unsur yang kedua adalah penawaran umum obligasi daerah yang dilakukan di pasar modal. Berbeda dengan unsur yang pertama, pemerintah daerah yang hendak menerbitkan obligasi daerah harus menyatakan pendaftaran kepada Bapepam-LK sehingga dapat dicatat di bursa efek. Dengan terdaftarnya obligasi daerah dalam bursa efek maka peluang bagi keterlibatan banyak pihak dalam memberikan pinjaman akan semakin besar termasuk dari pihak asing.
Obligasi daerah memiliki keunggulan kompetitif yaitu merupakan instrumen investasi yang beresiko rendah sehingga dapat menarik investor yang menyukai risk averse. Selain itu, obligasi daerah tidak mengenakan pajak pendapatan bunga bagi investor sebagai insentif dari teori investasi risk linier atau teori yang berbanding sama. Penerbitan obligasi daerah ini juga tidak memerlukan biaya yang terlalu besar seperti pinjaman ke luar negeri atau menjual aset negara yang sedang populer sekarang ini. Selain itu, organisasi sektor publik akan terakuntabilitas karena mendapat pengawasan secara langsung dari seluruh stakeholder. Obligasi daerah merupakan sumber pembiayaan potensial untuk membiayai pengeluaran termasuk merestrukturisasi bagian dari privatisasi BUMD yang kondisinya sudah tidak layak.
Meskipun memiliki beberapa keunggulan, bukan berarti penerbitan obligasi daerah tidak memiliki tantangan dan hambatan. Tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam penerbitan obligasi daerah adalah ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Di Indonesia, populasi sumber daya manusia mencapai angka tertinggi ke empat setelah China, India, dan Amerika Serikat. Akan tetapi, tidak semua sumber daya manusia di Indonesia memiliki skill yang mumpuni. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan yang terus-menerus di bidang  ilmu pengetahuan. Selain itu, proyek yang harus dibiayai melalui penerbitan obligasi harus merupakan proyek yang dapat memberikan multiplier effect kepada pembangunan daerah secara keseluruhan. Tantangan dan hambatan lain dari penerbitan obligasi adalah tuntutan terhadap pemerintah daerah untuk jujur dan bertanggung jawab baik dalam pelaksanaan proyek yang dibiayai obligasi daerah maupun pembayaran obligasi yang akan jatuh tempo. Pemerintah daerah juga dituntut untuk memperjelas sistem birokrasi dan mengefisiensikan pemanfaatan waktu serta biaya.
Obligasi daerah yang diterapkan dalam sistem desentralisasi fiskal dapat dikatakan sebagai hal yang baru dan juga sebagai alternatif pembiayaan yang memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pembiayan-pembiayaan yang lain. Obligasi daerah juga memiliki beberapa hambatan dan tantangan dalam pelaksanaannya. Dengan  demikian, perlu dilakukan tindakan menyeluruh dan kontinu agar tujuan dasar dari penerbitan obligasi daerah dapat tercapai. Melalui perbaikan yang konsisten maka reformasi sektor publik dalam mewujudkan Good Governance akan tercapai melalui desentralisasi fiskal, otonomi daerah dan obligasi daerah.

Siti Rodiah Hasana
115020300111066
Akuntansi 2011