Welcome to Official Blog of HMJA FEB UB

Selamat datang di Blog HMJA FEB UB dengan tampilan baru. Akuntansi SATU!

We Are Unite!

Show us. Akuntansi Satu!!!

Produk Kewirausahaan

Info mengenai produk-produk merchandise HMJA FEB UB.

Selasa, September 30, 2014

Kilas Balik September: OPEN HOUSE KM-FEB 2014

Pada tanggal 15-16 September 2014 yang lalu, keluarga besar mahasiswa FEB Universitas Brawijaya berkumpul dalam acara akbar Open House KM-FEB yang digelar di Basement Gedung E FEB UB. Dalam acara ini, seluruh LO dan LSO membuka stand dalam rangka pengenalan lebih dalam dari masing-masing lembaga kepada seluruh mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Tak terkecuali HMJA sebagai salah satu lembaga otonom atau LO yang menaungi seluruh mahasiswa Jurusan Akuntansi di lingkungan FEB UB.

Menempati stand nomor 15, HMJA memberikan kesempatan bagi seluruh mahasiswa baru, khususnya mahasiswa jurusan akuntansi untuk mengenal lebih baik mengenai keberadaan himpunan mahasiswa di universitas. Melalui obrolan-obrolan ringan bersama pengurus HMJA yang berada di stand, para mahasiswa baru dapat menyampaikan berbagai pesan, kesan, serta keluh kesah yang dirasakan selama kurang lebih 2 minggu berada di dunia perkuliahan. Selain itu, para mahasiswa baru juga dapat mengenal lebih jauh mengenai HMJA sendiri, dimana HMJA merupakan lembaga yang dapat dikatakan menjadi ‘rumah’ bagi seluruh mahasiswa Jurusan Akuntansi FEB UB. Mulai dari pengurus-pengurus HMJA, departemen-departemen yang ada, serta memromosikan berbagai program kerja yang ada di HMJA, seperti Interaksi dan Charity Event yang memang ditujukan untuk para mahasiswa baru.

Selain membuka stand, lembaga-lembaga yang ada juga diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi atau pun promosi mengenai lembaga masing-masing kepada seluruh mahasiswa yang menghadiri acara Open House. Dengan berakhirnya acara ini, diharapkan para mahasiswa baru dapat lebih memahami dan mengetahui lingkungan barunya di Universitas, serta ikut aktif dalam dunia keorganisasian di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

Kilas Balik September: STUDY EXCURSIE 2014

Pengetahuan dan pengalaman baru tidak hanya dapat diperoleh dari kegiatan perkuliahan di dalam ruangan. Melalui kegiatan Study Excursie atau yang disingkat SE, HMJA FEB UB memberikan kesempatan pada seluruh mahasiswa Jurusan Akuntansi untuk terjun secara langsung dalam dunia akuntansi yang sebenarnya. Pada tahun 2014 ini, acara yang menjadi program kerja tahunan dari departemen Infokom HMJA memilih Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sebagai kota tujuannya.

Sebelum memulai perjalanan.

Acara yang dilaksanakan pada tanggal 9 hingga 13 September 2014 ini diikuti oleh 47 peserta dari berbagai angkatan yang masih aktif sebagai mahasiswa di lingkungan JAFEB-UB. Dibuka oleh briefing dari panitia serta persiapan seluruh peserta, perjalanan dimulai tepat pada pukul 08.00 pagi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya menuju Jakarta sebagai tujuan pertama. Perjalanan panjang selama hampir satu hari dilewati dengan penuh keceriaan dan canda tawa.

Tujuan pertama setelah sampai di Jakarta pada pagi hari tanggal 10 September 2014 adalah Coca-cola Amatil Indonesia, salah satu perusahaan produsen dan distributor minuman ringan yang memiliki lisensi dagang produk Coca-Cola Company di Indonesia yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. Di sini, peserta SE 2014 dapat mengetahui lebih banyak mengenai sejarah perusahaan, manajemen perusahaan, mendengar penjelasan dan melihat secara langsung proses produksi dan distribusi dari berbagai produk Coca-cola Amatil Indonesia, serta melakukan sesi tanya jawab dengan pihak perusahaan.

Foto bersama pihak Coca-cola Amatil Indonesia.

Seusai kunjungan di Coca-cola Amatil Indonesia, perjalanan berlanjut menuju tempat penginapan dan waktu bebas. Selain sebagai kegiatan pembelajaran dan rekreasi, SE 2014 juga menjadi ajang bagi peserta untuk bertemu dengan para alumni Jurusan Akuntansi FEB-UB terutama yang berada di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Hari ketiga SE 2014 dimulai dengan perjalanan menuju salah satu KAP Big Four yaitu PwC Indonesia. Kunjungan kali ini dimulai dengan sesi presentasi dari PwC mengenai sejarah, bidang pekerjaan, serta berbagi hal yang berhubungan dengan dunia akuntansi, terutama dalam bidang auditing. Mengenal pengaplikasian dan penggunaan ilmu akuntansi secara nyata dalam dunia kerja dan lebih memahami prospek kerja dari lulusan jurusan akuntansi. Selain itu, dalam kunjungan di kantor PwC ini, peserta SE juga berkesempatan untuk sharing hearing bersama salah satu alumni JAFEB-UB yang bekerja di PwC Indonesia dan juga bertemu dengan Ketua HMJA Periode 2014 yang sedang menjalani program magang di sana.



Seusai makan siang bersama di Kantor PwC Indonesia, perjalanan berlanjut menuju kota tujuan kedua, Bandung. Kegiatan bebas selama kurang lebih 4 jam menjadi ajang jalan-jalan dan belanja oleh-oleh bagi para peserta. Sekitar pukul 8 malam, perjalanan berlanjut menuju tujuan terakhir, Yogyakarta, sekaligus menjadi perjalanan pulang dari SE 2014. Agenda yang dilaksanakan para peserta di Yogyakarta sendiri adalah berwisata ke salah satu objek wisata terkenal di Yogyakarta yaitu Gua Pindul. Peserta berkesempatan untuk melepas penat dan bersenang-senang melalui kegiatan susur gua baik basah atau pun kering dan juga rafting.

Tepat pukul 6 sore, peserta meninggalkan objek wisata Gua Pindul untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Malang. Perjalanan berakhir dengan selamat setibanya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya pada 13 September 2014. Melalui perjalanan SE 2014 ini, banyak hal-hal dan pengalaman-pengalaman baru yang didapatkan oleh peserta yang diharapkan dapat menjadi pengaruh positif dalam menuntut ilmu di Jurusan Akuntansi FEB UB dan berguna dalam kehidupan di masa depan.

Senin, September 29, 2014

Seminar Kewirausahaan Nasional with BONG CHANDRA : GRTW 2014 "Let's Make Your Billionare Dreams Come True"

BEM FEB Universitas Brawijaya proudly presents: Seminar Kewirausahaan Nasional GRTW 2014.
Dengan tema "Let's Make Your Billionare Dreams Come True", dan dengan pemateri :
- Bong Chandra ( Enterpreneur, Author dan Motivator Termuda se-Asia )
- Wahyu Lis Adaideaja ( Enterpreneur dan Penulis buku Emperpreneur )
- Dzawin ( Juara 3 Stand up Comedy Suci 4 )

Seorang motivator hebat dan masih muda, memiliki gelar sebagai motivator muda terbaik se- Asia. Dipadukan dengan seorang kreator bisnis yang selalu ada ide dan bersama dengan stand up comedy yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Disatukan bersama di dalam satu acara besar GRTW 2014!

Seminar Kewirausahaan Nasional GRTW 2014 akan diadakan :
Tanggal/Hari : 26 Oktober 2014
Jam : 08.00 s/d 16.00
Tempat : Hotel Graha Kartika ( Jl. Jaksa Agung Soeprapto 17, Malang)

HTM:
-VVIP : 400k
-VIP : 275k
-REG : 150k
Beli 10 tiket gratis 1 tiket, Promo tiket until 30 september 214.

Ayo segera daftarkan diri anda, Grab it fast, limites seats! Don't miss it guys!
CP: anjas: 082332530307
       wulan: 082131042561
       anas: 085731506045
More info: @GRTW2014
START YOUR OWN BUSINESS! :)

Rabu, September 24, 2014

OBLIGASI DAERAH SEBAGAI ALTERNATIF PEMBIAYAAN DALAM DESENTRALISASI FISKAL

Salah satu tuntutan pada awal reformasi adalah persoalan yang berkaitan dengan kebijakan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah
            Seperti yang diketahui, Indonesia berbentuk negara kesatuan dan hal ini telah dituangkan dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 1 yang berbunyi “Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik”. Sebagai negara kesatuan, hanya ada satu pemerintah yaitu pemerintah pusat yang memiliki wewenang tertinggi akan kekuasaan negara, menetapkan kebijakan-kebijakan pemerintahan dan melaksanakan pemerintahan baik di lingkup pusat maupun daerah. Meskipun pemerintah pusat memiliki kewenangan tertinggi, bukan berarti segala urusan langsung ditangani oleh pemerintah pusat. Pemerintah pusat dapat melimpahkan wewenang tersebut kepada pemerintah daerah yang kemudian disebut dengan desentralisasi. Menurut UU nomor 22 tahun 1999 pasal 1, desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintah oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan menurut Rondinelli dan Cheema, desentralisasi memiliki pengertian sebagai transfer perencanaan, pengambilan keputusan, atau otoritas administratif dari pemerintah pusat kepada organisasinya di lapangan, unit-unit administrasi lokal, organisasi semi-otonom dan organisasi parastatal (organisasi multinasional), pemerintahan lokal, atau organisasi non pemerintah.
Secara umum, desentralisasi bukan hanya mencakup satu aspek tetapi juga dari berbagai aspek. Salah satu aspek atau komponen utama dalam desentralisasi adalah desentralisasi fiskal. Desentralisasi fiskal memungkinkan pemerintah daerah melaksanakan fungsinya secara efektif dan bebas dalam mengambil suatu keputusan pengeluaran di sektor publik. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus mendapat dukungan sumber-sumber keuangan yang cukup baik yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Pinjaman, maupun Subsidi atau bantuan dari pemerintah pusat. Desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik apabila  didukung dengan pengawasan dari pemerintah pusat dan sumber daya manusia yang mumpuni di lingkungan pemerintah daerah serta kejelasan dalam pembagian tanggung jawab dan kewenangan dalam memungut pajak dan retribusi daerah.
Desentralisasi merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari otonomi daerah. Otonomi daerah membuat pemerintah daerah dapat mengatur dengan bebas daerahnya sesuai dengan arahan dan kebijakan dari pemerintah pusat. Kebijakan ini, menurut undang-undang nomor 32 tahun 2004, bertujuan untuk memacu perataan pembangunan dan hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran aktif masyarakat secara nyata, dinamis dan bertanggung jawab sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Selain mengurangi beban pemerintah pusat, campur tangan daerah yang dilakukan akan memberi peluang untuk koordinasi tingkat lokal. Kebijakan ini sangat bersinergi dengan undang-undang nomor 25 tahun 1999 dan undang-undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang akhirnya menimbulkan pemerataan hasil-hasil pembangunan secara adil dan menyeluruh dengan menggunakan sumber daya potensial di daerahnya masing-masing.  
Otonomi daerah yang secara tersirat menggambarkan kemandirian pemerintah daerah tetap bergantung pada kemampuan pemerintah daerah tersebut dalam bekerjasama dan bernegosiasi dengan pihak-pihak lain baik dari pihak swasta dalam negeri dan luar negeri serta pemerintah daerah lain maupun pemerintah pusat. Dalam realitanya, pemerintah daerah masih sangat bergantung kepada pemerintah pusat terutama dana perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Hal ini dibuktikan dengan cukup tingginya prosentase penerimaan daerah pada APBD dari dana perimbangan yaitu mencapai 60%.  Sementara belanja pegawai, barang dan jasa mencapai 75% serta kurang dari 20% digunakan untuk belanja modal. Dengan dana yang kurang dari 20% pada APBD tidak memungkinkan bagi pemerintah daerah untuk menjadikan belanja daerah sebagai pemicu pembangunan daerah melalui infrastruktur. Dengan kata lain, Pemerintah daerah mengalami dilemma karena di satu sisi mengalami keterbatasan dana dan di sisi yang lain aset tetap merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam kondisi Indonesia saat ini. Untuk menghadapi dilemma tersebut, terdapat salah satu alternatif yaitu melalui penerbitan obligasi daerah.
Penerbitan obligasi daerah ini didasarkan pada undang-undang  nomor 22 tahun 1999 pasal 79 yang memberi kuasa daerah untuk melakukan pinjaman daerah. Selain itu, undang-undang nomor 25 tahun 1999 pasal 11 dan 12 mengijinkan pemerintah untuk menggunakan beberapa instrumen keuangan dalam mencari pinjaman. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.07/2006, obligasi daerah merupakan pinjaman daerah yang ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. Obligasi Daerah hanya dapat diterbitkan di pasar modal domestik dan dalam satuan mata uang rupiah. Peraturan menteri keuangan yang diambil dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang pinjaman daerah tersebut menetapkan tatacara penerbitan, pertanggungjawaban, dan publikasi informasi obligasi daerah.  Tujuan penerbitan obligasi daerah adalah membiayai kegiatan investasi aset tetap sektor publik, bukan untuk menutup kekurangan kas daerah. Dana dari penerbitan obligasi daerah harus digunakan untuk proyek yang menghasilkan manfaat disertai dengan perencanaan yang matang. Meskipun demikian, obligasi ini tidak mendapatkan jaminan dari pemerintah pusat dan segala resiko dari obligasi daerah ini akan ditanggung oleh pemerintah daerah yang menerbitkan obligasi daerah tersebut.
Terdapat dua kemungkinan dalam pembiayaan ini yaitu dengan mengeluarkan Municipal Bond yang dikeluarkan langsung oleh pemerintah daerah yang berupa obligasi umum (General Bond) dan dijamin langsung oleh pemerintah daerah. Kedua adalah obligasi penghasilan (Revenue Bond) yang dikeluarkan untuk membiayai proyek-proyek secara langsung dan dijamin oleh proyek yang didanai seperti perhotelan, pariwisata, dan pusat-pusat bisnis yang lainnya. Setidaknya, ada dua unsur utama yang perlu diperhatikan dalam penerbitan obligasi daerah. Unsur pertama berkaitan dengan kapasitas fiskal yang membuat pemerintah daerah harus mendapat persetujuan dahulu dari menteri keuangan. Kapasitas fiskal yang dimaksud harus memenuhi syarat berikut ini :
1.    Jumlah sisa pinjaman daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75 persen dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya;
2.    Rasio proyeksi kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman (Debt Service Coverage Ratio/DSCR) paling sedikit 2,5;
3.    Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah; dan
4.    Mendapatkan persetujuan DPRD.

Sedangkan unsur yang kedua adalah penawaran umum obligasi daerah yang dilakukan di pasar modal. Berbeda dengan unsur yang pertama, pemerintah daerah yang hendak menerbitkan obligasi daerah harus menyatakan pendaftaran kepada Bapepam-LK sehingga dapat dicatat di bursa efek. Dengan terdaftarnya obligasi daerah dalam bursa efek maka peluang bagi keterlibatan banyak pihak dalam memberikan pinjaman akan semakin besar termasuk dari pihak asing.
Obligasi daerah memiliki keunggulan kompetitif yaitu merupakan instrumen investasi yang beresiko rendah sehingga dapat menarik investor yang menyukai risk averse. Selain itu, obligasi daerah tidak mengenakan pajak pendapatan bunga bagi investor sebagai insentif dari teori investasi risk linier atau teori yang berbanding sama. Penerbitan obligasi daerah ini juga tidak memerlukan biaya yang terlalu besar seperti pinjaman ke luar negeri atau menjual aset negara yang sedang populer sekarang ini. Selain itu, organisasi sektor publik akan terakuntabilitas karena mendapat pengawasan secara langsung dari seluruh stakeholder. Obligasi daerah merupakan sumber pembiayaan potensial untuk membiayai pengeluaran termasuk merestrukturisasi bagian dari privatisasi BUMD yang kondisinya sudah tidak layak.
Meskipun memiliki beberapa keunggulan, bukan berarti penerbitan obligasi daerah tidak memiliki tantangan dan hambatan. Tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam penerbitan obligasi daerah adalah ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Di Indonesia, populasi sumber daya manusia mencapai angka tertinggi ke empat setelah China, India, dan Amerika Serikat. Akan tetapi, tidak semua sumber daya manusia di Indonesia memiliki skill yang mumpuni. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan yang terus-menerus di bidang  ilmu pengetahuan. Selain itu, proyek yang harus dibiayai melalui penerbitan obligasi harus merupakan proyek yang dapat memberikan multiplier effect kepada pembangunan daerah secara keseluruhan. Tantangan dan hambatan lain dari penerbitan obligasi adalah tuntutan terhadap pemerintah daerah untuk jujur dan bertanggung jawab baik dalam pelaksanaan proyek yang dibiayai obligasi daerah maupun pembayaran obligasi yang akan jatuh tempo. Pemerintah daerah juga dituntut untuk memperjelas sistem birokrasi dan mengefisiensikan pemanfaatan waktu serta biaya.
Obligasi daerah yang diterapkan dalam sistem desentralisasi fiskal dapat dikatakan sebagai hal yang baru dan juga sebagai alternatif pembiayaan yang memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pembiayan-pembiayaan yang lain. Obligasi daerah juga memiliki beberapa hambatan dan tantangan dalam pelaksanaannya. Dengan  demikian, perlu dilakukan tindakan menyeluruh dan kontinu agar tujuan dasar dari penerbitan obligasi daerah dapat tercapai. Melalui perbaikan yang konsisten maka reformasi sektor publik dalam mewujudkan Good Governance akan tercapai melalui desentralisasi fiskal, otonomi daerah dan obligasi daerah.

Siti Rodiah Hasana
115020300111066
Akuntansi 2011

Selasa, September 16, 2014

Tentang LKIP LITBANG

LKIP adalah Lomba Karya Inovatif dan Produktif yang bertujuan untuk menggali kreatifitas mahasiswa akuntansi FEB UB dalam menciptakan suatu inovasi mengenai metode-metode akuntansi. Peserta dapat mengaplikasikan ide dalam sebuah produk seperti permainan, software, modul dan sebagainya, dsb.

PERSYARATAN

1.    Mahasiswa akuntansi aktif S1 JA FEB UB
2.    Mengisi form pendaftaran
3.    Satu tim terdiri dari maksimal 3 orang (angkatan tidak harus sama)
4.    Karya tulis original dan belum pernah memenangkan kompetisi serupa
5.    Fotokopi KTM 2 lembar tiap anggota kelompok
6.    Pas foto 3 x 4 berwarna 2 lembar tiap anggota kelompok

SISTEM KOMPETISI


Peserta
1.    Peserta Lomba Karya Inovatif Produktif 2014 ini adalah mahasiswa aktif Strata 1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.
2.    Peserta adalah perorangan atau tim yang beranggotakan maksimal tiga orang mahasiswa yang dapat berbeda angkatan.
3.    Peserta boleh mendaftar dengan lebih dari 1 tim tetapi hanya boleh menjadi ketua dalam 1 tim.
4.    Tiap peserta diperbolehkan mengirim lebih dari satu karya tulis sesuai dengan tema yang telah ditentukan dan harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan panitia. Aturan penulisan dapat dilihat dan/atau di-download melalui blog resmi hmjafeub.blogspot.com atau sekertariah HMJA FEB-UB .
5.    Karya tulis yang dibuat harus orisinil dan belum menjurai perlombaan apapun.


Prosedur Pendaftaran
Pendaftaran dibuka mulai 15 September 2014 dengan cara:
1.    Mengisi formulir pendaftaran yang dapat di-download melalui blog resmi HMJA FEB-UB atau dapat diambil di sekertariat HMJA gedung UKM FEB-UB lantai 2.
2.    Tidak dipungut biaya pendaftaran (GRATIS)
3.    Karya Tulis beserta berkas dikirim ke sekretariat HMJA FEB UB secara kolektif oleh masing- masing peserta dan diterima panitia selambat-lambatnya  18 Oktober 2014 dengan memberi kode LKIP 2014 pada sudut kiri atas amplop.
berkas yang harap di penuhi
1.    Formulir Pendaftaran LKIP 2014 yang telah diisi data diri peserta, beserta pas foto berwarna terbaru ukuran 3x4cm sebanyak 2 lembar tiap anggota kelompok;
2.    Karya tulis dalam bentuk hardcopy sebanyak 4 eksemplar;
3.    Karya tulis dalam bentuk softcopy berupa CD (Compact Disc) sebanyak 1 keping;
4.    Fotocopy Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sebanyak @ 2 lembar;


Pengumuman Finalis
1.    Panitia akan memilih finalis yang lolos seleksi dan akan diumumkan pada tanggal 15 November 2014 melalui blog hmjafeub.blogspot.com  dan di hubungi oleh panitia.
2.    Ketentuan setelah menjadi finalis akan di sampaikan pada saat Technical Meeting yang akan di lakukan pada 8 November 2014.
3.    Seluruh finalis akan mempresentasikan karya tulisnya pada 15 November 2014 dan wajib mengikuti seluruh rangkaian acara yang ditetapkan panitia. Saat presentasi di haruskan membawa hasil karya produk.
4.    Pada puncak acara akan dipilih 3 terbaik sebagai pemenang LKIP 2014.
5.    Keputusan juri LKIP 2014 bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

MEKANISME PENULISAN KARYA ILMIAH

Ketentuan lebih lanjut dapat di download (klik di sini untuk download)

PENGUMUMAN FINALIS

Jumlah finalis yang lolos di sesuaikan dengan jumlah total yang mengumpulkan makalah

TECHNICAL MEETING

8 November 2014, tempat menyusul

LOMBA KARYA INOVATIF DAN PRODUKTIF "LKIP" 2014 ;” Aplikasi Akuntansi yang Inovativ dan Kreatif”

 Apa itu LKIP?

LKIP (Lomba Karya Inovatif dan Produktif) merupakan salah satu program kerja litbang HMJA yang bertujuan mewadahi kreativitas dan produktivitas mahasiswa jurusan akuntansi FEB UB dalam mengimplementasikan ilmu akuntansinya menjadi sebuah produk yang memiliki inovasi dalam akuntansi. Kreasi yang di maksudkan dapat berupa penggembangan software akuntansi yang telah ada, ataupun pembuatan software baru, pembuatan modul dan lain sebagainya yang di harapakan dapat mempermudah dalam pemahaman akuntansi ataupun yang akan bermanfaat bagi akuntansi ke depannya. Produk dari lomba ini harus bisa diimplementasikan bukan hanya sekedar gagasan tertulis yang belum pasti dapat diimplementasikan. Hasil dari LKIP ini sendiri akan di realisasikan oleh jurusan akuntansi yang di harapkan dapat menjadi produk dari Jurusan Akuntansi FEB-UB.


Apa Itu
Akuntansi Aplikatif yang inovativ dan kreatif ?

Dunia yang semakin maju tidak lepas akan adanya teknologi yang semakin berkembang salah satunya adalah penggunaan komputer untuk menyelesaikan pekerjaan. Hal ini memberikan dampak yang besar dalam dunia akuntansi. Akuntansi merupakan kumpulan catatan transaksi keuangan , yang berkaitan dengan kewajiban suatu perusahaan dalam memperkirakan dan merekap semua transaksi. Termasuk dalam penyusunan laporan dan penggunaannya. Melihat begitu kompleksnya pekerjaan orang-orang yang bergelut dengan akuntansi diperlukan suatu akuntansi yang aplikatif .
Akuntansi aplikatif yang inovativ dan kreatif merupakan penerapan konsep akuntansi secara inovativ dan kreatif agar memudahkan saat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia yang semakin maju akan peradaban, memberikan dampak bagi pengaplikasian  akuntansi itu sendiri. Akuntansi menjadi mulai dianggap  penting bagi setiap lapisan masyarakat, hal ini bisa dilihat bahwa, terdapat program dimana setiap warga di desa diwajibkan mendapat pembelajaran akuntansi. Oleh karena itu, akuntansi di nilai sangat penting dalam menunjang pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari, di perlukannya akuntansi aplikatif yang mudah tetapi juga inovativ dan kreatif. Harapannya dengan begitu banyak penerapan konsep akuntansi seperti untuk metode pembelajaran akuntansi agar lebih mudah dalam mempelajari akuntansi, ataupun sebagai perhitungan anggaran belanja, danlain sebagainya.
Aplikatif ini tidak hanya digunakan untuk sekedar merekap semua yang berkaitan dengan aktivitas keuangan  seperti saham, keuntungan, pengeluaran, dan hasil transaksi, tetapi juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang  dipastikan meningkatkan minat dan daya tangkap terhadap materi akuntansi yag diajarkan. Hal ini dikarenakan media pembelajarannya dikemas dengan mengangkat ide yang inovatif dan kreatif


Latar Belakang LKIP dan Tema yang di usung

Fakta saat ini menunjukan bahwa metode pembelajaran yang banyak di gunakan, terlebih di Jurusan Akuntansi FEB UB didominasi metode ceramah dan sangat monotone sehingga menimbulkan efek, yaitu kurangnya  untuk mengimplementasikan ilmu yang mereka dapat. Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan setelah kuliah sangat membutuhkan sekali mengenai skill yang berupa aplikasi dari pemahaman materi yang didapatkan di bangku kuliah.

Akuntansi mengatur pengelolaan keuangan mulai dari personal sampai dunia manufaktur yang pengelolaannya rumit. Kendala dalam dunia pembelajaran akuntansi, adalah antara pengajar dan yang diajar mengeluhkan hal yang sama yaitu kerumitan. Akan tetapi, mahasiswa  yang disebut agent of change belum dapat menciptakan produk untuk mengatasi masalah tersebut karena belum memiliki skill yang cukup untuk membuat pengaplikasian akuntansi bagi media pembelajaran. Padahal sebagai mahasiswa akuntansi harusnya terbiasa untuk mengaplikasikan akuntansi dalam kehidupannya. Hal tersebut dikarenakan sampai saat ini sebagian besar  mahasiswa akuntansi, belum menerapkan pengaplikasian akuntansi kedalam bentuk kongkretnya.

Lomba ini diharapakan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa S1 JAFEB UB yang ingin menciptakan produk aplikasi akuntansi yang merupakan pengembangan dari ilmu akuntansi yang mereka dapatkan di bangku perkuliahan. Sehingga ilmu yang mereka miliki nantinya dapat berguna bagi proses pembelajaran akuntansi yang selama ini dikenal dengan kesan rumit. Selain itu, produk aplikasi akuntansi yang mereka buat dapat menjadi suatu dorongan bagi orang lain yang ingin menciptakan produk dengan tujuan yang sama secara inovatif dan kreatif, sehingga produk yang mahasiswa S1 JA FEB UB hasilkan merupakan suatu produk yang dijadikan acuan bagi khalayak lain.

Dengan tema yang sangat general ini di harapkan mahasiswa akuntansi S1 dari seluruh angkatan dapat membuat karya inovatif dan kreatif dengan tema ini. Karena pada dasarnya akuntansi yang sangat rumit bisa di implementasikan dalam penerapan media pembelajaran yang menimbulkan efek positif yang sangat besar bagi pengajar maupun peserta ajarnya.

Tujuan LKIP
1.      Untuk menggali kreatifitas mahasiswa khususnya mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.
2.      Untuk menciptakan suatu hasil atau produk nyata dengan metode akuntansi yang nantinya dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari.
3.      Untuk lebih memahami Akuntansi dengan pengimplementasian ilmu dan praktik langsung.
4.      Untuk mengenalkan Metode Akuntansi sederhana pada masyarakat luas.
5.      Untuk pengabdian masyarakat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan riset penelitian.

Minggu, September 07, 2014

Technical Meeting Study Excursie 2014

Minggu pagi (7/9/2014), tepat pada pukul 10.00 WIB, panitia Study Excursie 2014 mengadakan Technical Meeting Study Excursie 2014 sebagai langkah untuk memantapkan persiapan sebelum diadakannya acara Study Excursie yang akan dilaksanakan pada tanggal 9-13 September 2014. Untuk tahun ini, Study Excursie 2014 akan mengunjungi 3 kota; Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Suasana saat pembacaan petunjuk teknis sebagai persiapan Study Excursie 2014
                         Penyampaian informasi barang bawaan oleh panitia
Salah seorang peserta mengajukan pertanyaan di sela-sela Technical Meeting